Minggu, 09 Oktober 2011

20 Tips Komposisi Agar Foto Makin Keren

Komposisi dalam komunitas photography bidang seni apapun adalah ibarat selera akan makanan, semua kembali ke preferensi  masing-masing. Namun begitu, ada beberapa panduan tertentu yang tak lekang waktu dan ikut di amini oleh mayoritas pelaku.
Duapuluh tips singkat komposisi untuk fotografi berikut disarikan dari beragam sumber tulisan serta buku fotografi dan semoga pembaca bisa menambah atau menguranginya dengan mengisi komentar di akhir tulisan. Isinya bukan aturan tapi panduan, karena sekali lagi komposisi adalah masalah selera.
  • Tarik perhatian ke arah subyek utama dalam foto. Manfaatkan warna, bentuk, cahaya atau garis supaya foto tampak kuat dan menyedot perhatian

  • Sederhana, makin sederhana susunan foto anda makin kuat kesan yang ditimbulkan

  • Kurangi elemen yang tidak seirama. Jika menurut anda ada elemen tertentu yang merusak irama dan keharmonisan foto, singkirkan – tutupi – atau pindahkan sudut pemotretan supaya elemen tersebut hilang 
 
  • Penuhi seluruh isi frame dengan obyek utama. Kadang foto yang kuat kesannya adalah foto yang tanpa background sama sekali 


  •     Jangan biarkan ruang kosong mendominasi foto 


  • Cek daerah disekitar garis frame, jangan biarkan ada tangan, kaki atau bagian penting obyek terpotong tanpa alasan kuat
  • Maksimalkan penggunaan point of view (titik pandang) yang menarik, jangan melulu memotret dari depan subyek 





  • Jangan lupa rule of third. Tarik garis imajiner yang membagi foto menjadi 9 bagian sama besar. Tempatkan obyek utama di persimpangan garis-garisnya




  • Saat memotret orang, usahakan selalu agar mata berada diatas garis tengah foto 



  • Bagian paling terang dalam foto adalah bagian yang paling menyedot perhatian mata. Taruh obyek utama disana 



  • Background lah yang memperkuat kesan. Jadi jangan biarkan background mematikan obyek utama. Baca lebih jauh tentang background disini.



  • Memotret secara horisontal memperkuat kesan lebar dan secara vertikal memperkuat kesan tinggi
  • Tajamkan mata untuk mengenali pola yang berulang, manfaatkan  



  • Tajamkan mata untuk mengenali pola simetri, manfaatkan 


  • Leading line dan kurva-S selalu menyenangkan dilihat 


  • Untuk memotret anak-anak, jongkoklah. Sejajarkan kamera dengan mata mereka 



  • Hindari menaruh titik perhatian tepat ditengah-tengah foto
  • Hindari meletakkan garis horison tepat di tengah foto, usahakan horison ada di sepertiga atas atau bawah 


  • Jangan biarkan garis horison menabrak bagian obyek yang penting

  • Cek, cek dan cek lagi sesaat sebelum memencet shutter. Pastikan apa yang tampak di viewfinder sesuai keinginan anda 

Minggu, 14 Agustus 2011

im photographer


FOTOGRAFI INFRARED

Bagi saya tidak ada yang menyelesaikan pelajaran fotografi infrared, tanpa memahami bagaimana sebuah cahaya itu dan cara kerjanya. Sumber cahaya yang biasa kita rasakan adalah cahaya matahari didalam tata surya kita dan dari setiap benda yang memancarkan energi atau tenaga. Bagi para ilmuwan energi tersebut mulai dari x-ray sampai kepada gelombang radio, semuanya itu disebut electromagnetic spectrum.

Panjang Gelombang
Setiap electromacnetic spectrum mempunyai panjang gelombang yang berbeda. Spectrum yang masuk kedalam kategori gelombang cahaya menjadi tiga kategori besar yaitu :
  • Cahaya Ultraviolet
  • Cahaya Tampak Mata(visible) dan
  • Cahaya Infrared


Jarak antara satu gelombang naik sampai kepada satu gelombang turun disebut panjang gelombang, ukuran tersebut sangat kecil sehingga menggunakan ukuran nanometers atau 1/1 juta meter.
Cahaya tampak mata dan tidak tampak mata
didalam kehidupan kita sehari-hari kita melihat apa yang disebut cahaya tampak mata, warna merah, kuning hijau dan biru yang kita lihat itu termasuk kedalam kategori cahaya tampak mata. Tetapi gelombang cahaya bukan saja cahaya yang dapat kita lihat, melainkan juga ada cahaya ultraviolet dan infrared, dimana cahaya tersebut tidak bisa kita tangkap dengan mata kita. Cahaya tampak mata hanya cahaya yang berada dispektrum (400 s.d 700nm), karena mata manusia hanya dapat menangkap panjang gelombang sepanjang itu. Spektrum terbagi kepada beberapa warna(merah, oranye, kuning, hijau, biru dan violet), gelombang yang pendek akan masuk kedalam kategori gelombang biru, dimulai pada panjang gelombang 400nm sedangkan gelombang cahaya yang termasuk kedalam gelombang Infrared adalah cahaya dengan panjang gelombang lebih besar dari 700nm. Cahaya infrared sendiri masih terbagi menjadi dua yaitu cahaya “near infrared”(700-1200nm) dan “Far Infrared”(lebih besar 1200nm).
Sebetulnya setiap benda yang dapat kita lihat lihat dan memiliki warna berarti benda tersebut memantulkan warna-warna yang jatuh ke benda tersebut. Jika kita melihat sebuah benda berwarna biru berarti benda tersebut memantulkan cahaya biru yang jatuh kepadanya dan menyerap warna lainya.
 
Fotografi Infrared
Pada dasarnya sebuah fotografi infrared adalah sebuah teknik fotografi yang berusaha menangkap warna infrared yang dipantulkan oleh obyek foto. Dalam hal ini fotografer yang memotret dengan teknik infrared akan berusaha menangkap cahaya dengan panjang gelombang lebih dari 700nm(nanometer) atau cahaya infrared dari obyek-obyek yang ingin di foto. Pada foto hasil Infrared tampak daun berwarna terang dan laut berwarna gelap, hal ini disebabkan oleh karena tumbuh-tumbuhan banyak memantulkan cayaha infrared yang jatuh kepadanya dan laut banyak menyerap cahaya infrared yang jatuh kepadanya.
Fotografi infrared pada film.

Pada fotografi infrared menggunakan film, digunakan film yang khusus hanya merekam cahaya infrared, beberapa contoh film infrared adalah: Konica 750 infrared film, Kodak High Speed Infrared dan Maco IR 820c. Pengunaan film infrared ini cukup sulit karena film infrared peka terhadap panas dan cahaya sekecil apapun. Untuk memperindah hasil foto Infrared fotografer dapat memasangkan filter #25 didepan lensa dan akan menghasilkan foto infrared yang lebih baik karena filter ini akan lebih memutihkan warna tumbuhan dan menghitamkan langit dan laut(dengan asumsi foto dicetak pada kertas hitam putih).
Fotografi Infrared pada kamera digital.
Pada fotografi infrared menggunakan kamera digital, untuk mendapatkan foto infrared kita perlu memblokir semua cahaya tampak dan ultraviolet agar sensor hanya menangkap cahaya infrared yang dipantulkan oleh benda-benda yang kita foto.
Untuk memblokir cahaya-cahaya tersebut dan mendapatkan cahaya infrared tersebut dibutuhkan sebuah filter dengan bahan tertentu yang mampu menolak semua cahaya yang berada dibawah 700nm dan membiarkan lewat cahaya yang memiliki panjang gelombang lebih besar atau sama dengan 700. Filter tersebut disebut filter infrared.
 
Ada berbagai macam merk filter infrared dan kepekatannya seperti pada tabel berikut ini :

Merk
Panjang  Gelombang




87
750nm




89B/Cokin P007
50% pada 720nm




87A
950nm
Tidak diproduksi lagi


87B
850nm
Tidak diproduksi lagi


87C
800nm




Hoya R72
720nm, dengan sedikit cahaya tampak




Hoya RM90
900nm




Hoya RM100
1000nm




M&K 1000
1000nm




M&K 093 dan 095
mulai dari 830nm



Semakin pekat filter yang digunakan semakin panjang pula panjang gelombang yang bisa melewatinya. Pada filter yang memiliki kepekatan rendah seperti filter cokin P007 yang melewatkan 50% cahaya Infrared dan 50% cahaya tampak. Pada kasus ini foto IR yang menggunakan filter cokin P007 akan lebih karya warna dibandingkan kalau kita menggunakn filter hoya R72 atau bahkan Hoya RM90.
Saat ini kalau ingin memotret foto infrared dengan menggunakan kamera digital kita biasa memasangkan filter2 diatas didepan lensa kita, dengan menggunakan filter Hoya R72 kita bisa menghasilkan sebuah foto Infrared mengunakan exposure 1 detik dengan f8 pada ISO 200. Kondisi memotret dengan exposure seperti itu dilakukan pada waktu tengah hari dimana cahaya matahari memiliki kontras tinggi. Dengan exposure seperti itu kita dapat melihat bahwafilter infrared menurunkan exposure sedemikian drastisnya.
Mengkonversi Kamera Digital menjadi Kamera Digital IR
Sekarang ini banyak fotografer yang mengemari fotografi Infrared, banyak kreasi-kreasi yang dihasilkan, konsep-konsep makin berkembang, timbul keinginan untuk menghasilkan foto yang tajam atau menghasilkan efek diam (freezing) pada obyek bergerak pada foto infrared. Dengan kecepatan 1 detik cukuplah sulit untuk menghasilkan foto dengan ketajaman yang baik, dengan kecepatan 1 detik itu, obyek foto akan susah untuk diam atau tidak tertiup angin, apalagi kalau kita ingin menghasilkan efek diam pada obyek bergerak menggunakan kecepatan 1 detik.
 
Melalui beberapa penyelidikan oleh beberapa fotografer ditarik kesimpulan bahwa yang menyebabkan lambatnya kecepatan rana disebabkan oleh filter HOT MIRROR yang ditanamkan pada kamera-digital. Tujuan menanamkan HOT MIRROR didepan sensor oleh pabrikan kamera digital sebetulnya untuk menahan “sementara ” cahaya infrared yang masuk mengenai sensor, agar foto yang dihasilkan tidak kemerah merahan atau REDISH yang diakibatkan cahaya infrared yang masuk. Hot Mirror baik untuk menghasilkan foto yang NORMAL, sedangkan bagi pengemar foto infrared ini merupakan halangan yang mengganggu. Sehingga timbul ide untuk mencopot filter Hot Mirror ini untuk meningkatkan kecepatan rana ini, dengan pencabutan filter ini hilanglah halangan terhadap cahaya infrared sehingga kecepatan rana bisa meningkat, Hilanglah masalah lambatnya namum masih ada satu masalah lagi yaitu penempatan filter Infrared yang berada didepan lensa tentu lah sangat mengganggu, kita tidak susah melakukan komposisi dan focusing karena warna filter infrared yang merah pekat tersebut menghalangi pandangan kita. Karena hal tersebut timbulah ide untuk menempatkan filter infrared didepan sensor CMOS atau CCD kamera digital. Dengan menempelkan filter infrared didepan sensor mengantikan Hot Mirror pandangan fotografer menjadi bebas sehingga komposisi menjadi lebih mudah, perlu di ingat pencopotan hot mirror filter atau pemasangan filter infrared di sensor kamera perlu mengalami penyesuaian focus dan beberapa hal lainnya. Modifikasi kamera seperti inilah yang sering disebut kamera hasil “Oprekan IR”.
 
Setelah kita memotret dengan filter ir menggunakan kamera digital, langkah selanjutnya adalah melakukan olah digital pada file jepretan kita sesuai selera, dengan menggunakan channel swap kita dapat mengolah hasil foto IR menjadi gambar yang indah.

10 Tips Memotret Sunset Dan Sunrise

Memotret sunset dan sunrise adalah salah satu dari sekian banyak ”foto wajib“ yang harus dilakukan oleh seorang penggemar Komunitas Photography Kalau anda sudah pernah mencoba memotret sunset atau sunrise tetapi kurang puas dengan hasilnya, silahkan coba tips berikut ini supaya foto sunset dan sunrise bertambah baik:



Lakukan Persiapan Sebaik-baiknya

Sunset dan sunrise hanya berlangsung sekitar setengah jam. Untuk itu kita harus melakukan persiapan matang sebelumnya. Pastikan datang lebih awal dan pastikan anda sudah tahu dari  titik sebelah mana anda akan memotret. Agar komposisi akhir foto keren, lakukan observasi tempat sebelumnya. Untuk memastikan anda tidak terlambat , usahakan anda tahu jam berapa sunset atau sunrise akan tiba (karena jam sunset / sunrise berbeda dari lokasi ke lokasi).  Juga pastikan peralatan sudah siap: kamera – lensa – tripod (jika ada) serta aksesoris lainnya sudah terpasang & disetel dengan baik, sehingga saatnya tiba kita bisa sibuk memotret bukan sibuk mengeset alat.


Jangan Kecewa Karena Mendung

Karena anda sudah bersusah – payah mendatangi lokasi yang jauh dan sulit, jangan kecewa kalau mendadak mendung tiba. Maksimalkan kreatifitas anda saat langit tertutup mendung. Langit mendung bukan halangan menghasilkan foto indah saat sunrise dan sunset. Cari tahu obyek apa saja yang menarik untuk difoto saat

Jangan Terpaku Pada Wide Angle

Memotret sunset dan sunrise menggunakan lensa sudut lebar (wide angle) merupakan hal yang biasa, namun jangan terpaku hanya menggunakan lensa tersebut (kalau anda memang punya pilihan lain). Manfaatkan rentang lensa yang lain, misalnya lensa tele.


Maksimalkan Siluet

Hal yang menambah daya tarik foto sunset dan sunrise adalah siluet. Siluet memberi kesan yang kuat serta memberi cerita dalam foto anda, apalagi jika anda memotret sunset atau sunrise di lokasi yang memiliki identitas kuat.

Bawalah Tripod

Jika anda ingin memanfaatkan teknik long shutter – membuat HDR atau panorama: tripod wajib dibawa

Gunakan Manual Focus

Karena sunset dan sunrise memiliki kualitas cahaya yang lumayan ekstrim, kadang kamera akan kesulitan menemukan fokus jika anda menggunakan mode auto focus, segera ganti ke mode manual sehingga kita tidak menyia-nyiakan waktu menunggu kamera menemukan titik fokus.


Gunakan Preset White Balance Cloudy

Ubahlah setting white balance anda ke cloudy (biasanya dilambangkan dengan ikon mendung). Setting white balance ini akan membuat foto sunset atau sunrise lebih hangat dan warnanya lebih “menggigit”, dibandingkan kalau menggunakan setting white balance auto. Atau jika anda suka bereksperimen, cobalah setting white balance lainnya.

Gunakan Spot Metering (SLR dan Prosumer) atau Sunset Scene (Untuk Kamera Saku)

Untuk memperoleh eksposur yang tepat, gunakan mode metering spot jika anda memiliki kamera SLR dan prosumer, atau gunakan mode scene sunset/ sunrise jika anda menggunakan kamera saku pemula. Untuk pengukuran menggunakan spot meter, arahkan titik fokus ke area sekitar matahari (jangan tepat di matahari – nya lalu lakukan metering dengan memencet separuh shutter, lalu kunci eksposur anda. Untuk kamera saku (dengan mode scene), tinggal arahkan dan jepret.


Jangan Berhenti Ketika Sunset Lewat

Saat memotret sunset, jangan kemasi kamera anda hanya karena matahari sudah melewati garis horison. Bertahanlah sebentar lagi, karena cahaya sesaat setelah sunset adalah salah satu cahaya paling indah yang dikeluarkan alam. Begitu juga dengan sunrise, jangan datang terlalu mepet dengan waktu matahari terbit. Cahaya sesaat sebelum sunrise adalah salah satu yang paling indah

Berdoalah Agar Alam Berpihak Pada Anda

Anda sudah jauh – jauh datang ke pantai terpencil (atau gunung), menyiapkan alarm untuk bangun jam 4 pagi dan sudah menata semua peralatan agar siap memotret, namun tiba – tiba hujan tiba. Ya apadaya, memotret di alam terbuka memang membutuhkan keberuntungan dan kesabaran, kenapa kesabaran? karena anda bisa mencoba lagi esok hari :)

20 Tips Komposisi Agar Foto Makin Keren

20 Tips Komposisi Agar Foto Makin Keren

Komposisi dalam bidang seni apapun adalah ibarat selera akan makanan, semua kembali ke preferensi  masing-masing. Namun begitu, ada beberapa panduan tertentu yang tak lekang waktu dan ikut di amini oleh mayoritas pelaku.
Duapuluh tips singkat komposisi untuk fotografi berikut disarikan dari beragam sumber tulisan serta buku fotografi dan semoga pembaca bisa menambah atau menguranginya dengan mengisi komentar di akhir tulisan. Isinya bukan aturan tapi panduan, karena sekali lagi komposisi adalah masalah selera.
  • Tarik perhatian ke arah subyek utama dalam foto. Manfaatkan warna, bentuk, cahaya atau garis supaya foto tampak kuat dan menyedot perhatian
  • Sederhana, makin sederhana susunan foto anda makin kuat kesan yang ditimbulkan
  • Kurangi elemen yang tidak seirama. Jika menurut anda ada elemen tertentu yang merusak irama dan keharmonisan foto, singkirkan – tutupi – atau pindahkan sudut pemotretan supaya elemen tersebut hilang
  • Penuhi seluruh isi frame dengan obyek utama. Kadang foto yang kuat kesannya adalah foto yang tanpa background sama sekali
  • Jangan biarkan ruang kosong mendominasi foto
  • Cek daerah disekitar garis frame, jangan biarkan ada tangan, kaki atau bagian penting obyek terpotong tanpa alasan kuat
  • Maksimalkan penggunaan point of view (titik pandang) yang menarik, jangan melulu memotret dari depan subyek
  • Jangan lupa rule of third. Tarik garis imajiner yang membagi foto menjadi 9 bagian sama besar. Tempatkan obyek utama di persimpangan garis-garisnya
  • Saat memotret orang, usahakan selalu agar mata berada diatas garis tengah foto
  • Bagian paling terang dalam foto adalah bagian yang paling menyedot perhatian mata. Taruh obyek utama disana
  • Background lah yang memperkuat kesan. Jadi jangan biarkan background mematikan obyek utama. Baca lebih jauh tentang background disini.
  • Memotret secara horisontal memperkuat kesan lebar dan secara vertikal memperkuat kesan tinggi
  • Tajamkan mata untuk mengenali pola yang berulang, manfaatkan 
  • Tajamkan mata untuk mengenali pola simetri, manfaatkan
  • Leading line dan kurva-S selalu menyenangkan dilihat
  • Untuk memotret anak-anak, jongkoklah. Sejajarkan kamera dengan mata mereka
  • Hindari menaruh titik perhatian tepat ditengah-tengah foto
  • Hindari meletakkan garis horison tepat di tengah foto, usahakan horison ada di sepertiga atas atau bawah
  • Jangan biarkan garis horison menabrak bagian obyek yang penting
  • Cek, cek dan cek lagi sesaat sebelum memencet shutter. Pastikan apa yang tampak di viewfinder sesuai keinginan anda

Posisi Menentukan Prestasi

Posisi Menentukan Prestasi

Ternyata hal tersebut tidak saja berlaku ketika mau ujian saja (hayoooo ngaku) tapi juga berlaku di photography.
Posisi menentukan angle dan best composition yg bisa kita abadikan. Walau yg di abadikan adalah benda dan objek yg sama, tapi posisi yg tepat dan ditunjang waktu yg tepat akan membuat dimensi dan mood yg berbeda di foto yg kita abadikan..para komunitas photography
Sharing ini ingin menunjukan apa yg dimaksud dengan “posisi menentukan prestasi”. Mana yg terbaik dan mana yg enak secara komposisi kita nikmati tentu berbeda tergantung dari definisi keindahan itu sendiri..
Tapi hikmah dari pelajaran ini adalah, utk mendapatkan the great masterpiece photo, it not a matter of gear and how we execute.. it’s also a matter of process.
You’re very lucky jika dalam a single shot langsung dapat foto yg paling bagus.
So, keep explore, keep hunting, buat riset posisi di mana yg paling tepat utk angle yg paling ok..
PART 1 : HAMBURG PANORAMA,
one object, several tried to shot, different angles to composed, different time to capture..
1. Winter Time, unperfect time to shot, -15°C and I got ill after taking this photo. No body would taking photo in that time…
Winter in Alster, a lake in the center of the Hamburg city.
Stitching from 5 vertical frames in order to capture the frozen lake. Nikon D300, Tokina 12-24mm f4 at f16 in 20 sec on tripod.
2. Winter Time part II, no snow, cloudy and it’s captured after rain all day long
Stitching from 6 vertical frames.
Nikon D300, Nikon AFS 17-55 f2.8 at f11 in 15 sec
Perhatikan pergerakan awan yg dari kiri ke kanan.. mendung di sebelah kanan dan cerah di sebelah kiri. Setelah nunggu sekitar 40-60 menit in -5° C akhirnya saya dikasih kado pemandangan ini.
Photo ini diambil sesaat setelah hujan
3. Just last week, autumn time, diambil sejajar danau di bawah… sesaat sebelum “real” blue hour datang..

This woud be a cropping version, a cropped from one single NEF file in one frame.
Nikon D300, Tokina 12-24 f4 at f13 in 15 second.

4. Just last week, diambil bersamaan dengan saat mengambil yg photo di atas, di atas di atas jembatan jalan sekitar 5 menit dari posisi photo no 3 di atas. (lari ding gak jalan.. takut hilang blue hournya, hehehhe)
A stitching from 9 vertical photos


Nikon D300 + Nikon 50mm f1.8 at f10 in 15 second.
Perhatikan beberapa photo di atas, bagaimana sebuah angle dan moment yg tepat juga bisa mempengaruhi hasil dan “prestasi”, pada photo no 3, angle dan komposisinya bisa menangkap 4 buat “dome” atap gereja dan rathaus (cityhall) utama di Hamburg, ditambah dengan bonus balon udara 
Now you could see, utk mendapatkan satu foto yg bagus.. .beberapa kali mencoba, beberapa waktu di coba, menunggu waktu yg tepat the right golden moment, utk bisa menghasilkan photo yg bisa mewakili kepuasan kita.
Dan justru di situ letak asiknya motret landscape, cityscape.. kesabaran menunggu moment, ketelitian kita menyelidiki tempat utk dijadikan objek yg menarik, kepuasan saat telunjuk mencet shutter dengan segala pertimbangan .. akan membuahkan hasil yg mudah2an membuat diri ini terpuaskan.
Tapi inget, Creativity has no border…
jepret terus pantang mundur…
TIPS :
1. Selidiki tempat yg paling ideal utk motret
- apakah byk orang di tempat tsb, jika iya, kapan dan apakah berpotensi mengganggu framing?
- apakah ada distracting object yg bisa mengganggu framing kita (construction, dll)
- catat spot2 yg bisa menghasilkan different angle, different composition
- jelajahi spot2 tsb
Bisa dengan googling, liat peta, tanya teman dll. Tapi ada satu tips manjur dari saya : liat postcard !! Jadikan postcard inspirasi dan bayangan seperti apa nanti jadinya photo kita yg ingin kita ambil.
2. Selidiki Cuaca
- gak ada waktu yg gak ideal, different weather would give us different impression.
- siapkan alat2 dan perlengkapan utk menghadapi cuaca (gloves, topi, jaket tebal, payung dll)
- jangan menyerah pada cuaca, cuaca buruk menyimpan potensi alam yg luar biasa.. sesaat setelah nya akan muncul fenomena yg luar biasa. Yg sangat jarang orang menyadarinya
3. Selidiki waktu yg tepat dan ideal
- glory morning, golden moment
- blue hour, sesaat sebelum dan sesudah magrib
- saat awan berarak berkumpul, di siang bolong
4. Coba Posisi yg berbeda dan di waktu yg berbeda utk satu objek yg menarik (that the main point of this sharing)
5. one angle could mean ‘something’
Kata Arbain Rambey dalam sebuah workshop, ambil satu angle yg utama.. yg wajib fardhu kifayah, selanjutnya silahkan mengexplorasi angle yg lain, sudut yg lain, waktu yg berbeda utk memperkaya
Semoga membuat kita jadi tambah semangat dan menginspirasi kita semua.

Cara Memotret Anak Kecil

Cara Memotret Anak Kecil

1. Yg paling natural dalam hal foto anak kecil dri sisi portraiture (potret) adalah sudut pengambilan foto dimana kita sebaiknya berdiri sejajar / sama tinggi dgn anak itu. Sebabnya ialah efek lensa. Bila anda berdiri lebih tinggi, akan membuat wajah anak terutama dahinya lebih besar dan menonjol daripada ukuran sebenarnya. Lagipula postur anak dapat terkesan lebih pendek dri semestinya. Dalam pengambilan foto setengah badan, maka anak itu akan tampak seperti tidak berleher.

2. Usahakan utk penuhi viewfinder kamera dgn profil anak itu, misalnya wajah atau seluruh badan.

3. Hindari adanya objek dilatar belakang anak seperti tiang listrik/tiang lampu yg akan membuat se-olah2 tiang2 tsb tumbuh dri belakang kepala sang anak.

4. Bila latar belakang atau background (BG) sangat luas, baliklah kamera anda ke posisi vertikal. Ini akan mengurangi efek pemandangan latar belakang yg luas, dan lebih memfokuskan foto ke anak itu saja.

5. Usahakan sedapat mungkin, mengambil foto anak dilakukan dalam lingkungannya sendiri, misalnya dikelilingi oleh perangkat mainannya, dikamar tidur yg tertata sebagai kamar tidur anak2 yg penuh dgn segala pernak-pernik dan mainan yang digemari ataupun disukai anak tsb.

6. Sedapatnya buatlah agar sang anak merasa nyaman/relax dan tidak bersikap tegang atau kaku.
Jangan anda menyuruhnya duduk manis di pinggiran sofa. Atau berdiri degan sikap tegap. Ini hanya akan membuat anak tampak tegang, apalagi kalau ia merasa tak nyaman atau tak senang saat kita memaksakan kehendak kita.

7. Seringkali mengambil foto anak dgn segala ulahnya yg terbaik adalah bila sang anak tidak sadar akan difoto.
Dalam hal ini ekspresi wajah sang anak yg penuh keceriaan akan terekam secara alami (natural). Dalam hal ini anda bisa membuat diri anda "invisible" (tidak tampak), dan pengambilan foto sebaiknya dilakukan dari jarak jauh dengan lensa panjang/tele.

Kamera2 digital consumer/prosumer yg dilengkapi dgn lensa zoom panjang sampai 10x atau 12x memungkinkan pengambilan foto cara ini. Untuk kamera DSLR, banyak pilihan lensa zoom dari ukuran menengah sampai tele bisa digunakan.

8. Bila hendak memfoto anak secara formil, dgn pakaian rapi seperti pada hari Lebaran atau Natal, pakaikanlah peci, topi, atau biarkan ia membawa mainan kesukaan, utk anak lelaki. Sedangkan selendang atau sekeranjang bunga atau boneka kesayangan dapat diberikan utk anak perempuan. Anda dapat membuat banyak komposisi foto yg menarik melihat dari ber-macam2 sikap sang anak bila sang anak merasa senang, gembira atau santai.
Jangan memaksakan sang anak harus tersenyum karena itu akan membuatnya bersikap tegang. Bila sang anak merasa relax, ambillah beberapa foto saat ekspresi/mimik wajah, pose atau gaya mereka sedang ber-beda2.
Pasti ada beberapa dri sekian banyak foto yg anda ambil yg akan menampilkan ekspresi dan komposisi yg menyenangkan utk disimpan sebagai koleksi keluarga.

9. Ada dua pola action foto anak. Pertama, mengambil foto action seperti pada saat anak sedang berlari-lari atau mengejar bola, anda bisa gunakan kecepatan rana tinggi (high shutter speed) utk membekukan (freeze frame) gerakan sang anak se-olah ia terdiam (suspended).
Cara kedua anda bisa mengikuti gerakan arah berlarinya anak dgn kamera, istilah fotografinya ialah - panning. Ini adalah cara memfoto gerakan anak sambil memperkirakan atau membayangkan dimana posisi ia selanjutnya pada saat berlari. Titik fokus kamera difokuskan pada titik yg anda telah perkirakan/bayangkan dimana selanjutnya anak itu akan berada.
Ikutilah gerakan anak yg berlari dgn kamera agak sedikit kedepan dri posisi anak itu. Bila sdh mendekati titk perkiraan anda tadi, tekanlah tombol shutter kamera sambil terus mengikuti gerak lari anak selama beberapa detik.
Bilamana anda sdh cukup terlatih, hasilnya adalah sebuah foto yg menampilkan sang anak dgn tajam tapi sedang - in motion - dg latar belakang yg kabur dgn garis2 (streaks) yg menunjukkan adanya pergerakan. Layaknya action foto.
Utk pengambilan action foto ini sebaiknya dilakukan dgn setting kamera secara manual.

10. Lain halnya bila hendak memfoto sekelompok anak2 yg sedang bermain-main di atas lantai, pada tumpukan pasir, di pantai, maupun di taman. Postur anda dapat sepenuhnya berdiri, atau berada lebih tinggi utk dapat meliput juga seluruh areal bermainnya.

Harus di ingat, seorang anak memiliki ber-macam2 pose/gaya serta mimik ekspresi wajah yg selalu berubah-ubah setiap saat, dan tidak pernah ada mimiknya yg sama.
Jadi, kitalah yg harus selalu siap2 (alert), agar tak kehilangan momen yg jarang terulang kembali].

Dalam hal ini keuntungan dalam memakai kamera digital adalah anda dapat melakukan pengambilan foto se-banyak2nya alias jangan cuman satu-satu karena takut kehabisan memori. Sebagai fotografer, kitalah yang mencari posisi, bukan sang anak yang mencari posisi atau diletakkan pada posisi.

Dari sekian banyak pengambilan foto seorang anak, yg berkesan bagi anda, disimpan utk koleksi dan kenangan. Selebihnya yg kurang disenangi, bisa anda hapus dari memori card.
Sebisanya, hindarilah penggunan flash dalam memotret anak kecil agar terkesan lebih alami. (Gosh, I hate flash)

Moga bermanfaat...

Apa yang membuat foto bagus

Apa yang membuat foto bagus

Kita punya teman bernama fotography,dalam  Komfowipa teman sempurna dalam berpergian, dinas ke daerah, ziarah, piknik, mudik atau mendaki bukit. Fotografi bikin kita percaya diri jelajahi tempat yang kita kunjungi, orang-orang yang kita jumpai; fotography bikin perjalanan jadi lebih berarti, dan bersamanya kita nikmati asyiknya mencintai seni. fotography membuat kita lebih bersyukur atas anugerah penglihatan dan kesempatan melihat tanda-tanda keagungan Ilahi. Nikmat yang tak dapat diukur dan ditakar.

Photography menjadi alasan kuat untuk aktivitas kita, pergi mengunjungi berbagai tempat yang sebelumnya tak punya niat, pulang telat, membeli alat, dst. Hasrat membara untuk dapatkan bidikan yang mantap mendorong kita bersusah payah mengeksplore sebuah tempat hingga semak belukar, memutar-mutari apa yang akan kita ambil gambarnya, mencari-cari sudut pengambilan untuk menemukan keunikan dan keindahan yang tak terlupakan, kadang pencarian ini juga beresiko fatal jika tidak dilakukan dengan hati-hati dan perhitungan nalar.
Menemukan viewpoint terbaik adalah perisitiwa besar, jantung anda berdebar, lama mata anda menatapnya dengan berbinar, anda mungkin berpikir, apakah ini waktu yang tepat untuk mengambil gambar, anda mungkin akan mendirikan tenda dan menunggu moment terbaik dari waktu ke waktu, dari fajar hingga asar, dari Maret hingga Desember. Anda menjadi seorang yang ulet dan sabar.

Ketika anda menekan shutter release
, anda mengikat sebuah jalinan pribadi yang manis dengan tempat dan orang-orangnya. Anda di sana . Fotografi melindungi kenangan perjumpaan anda dengan apa yang ada di dalamnya. Lalu kita perlihatkan kepada yang lain tentang tempat dan suasana yang menarik di mana kita pernah di sana , pemandangan yang menakjubkan, orang-orang yang mengagumkan. Jiwa anda pun tergambar.
Gambar-gambar suka mempengaruhi pikiran kita, suka menggoda kita, memaksa kita untuk bermain di dalamnya atau berimajinasi dengannya. Foto-foto yang kita buat dapat mendorong orang lain untuk ingin mengalami sendiri keindahan atau keasyikan yang disajikan foto tersebut. Tentu saja, foto pemandangan yang indah dan model yang seksi akan membangkitkan keinginan dan imajinasi yang berbeda. Keinginan yang timbul tanpa sadar.
Siapa saja bisa menjadi anggota Komfowipa. Artinya siapa saja bisa memotret. Dengan tambahan pikiran kreatif dan usaha yang tak kenal surut, anda dapat menciptakan gambar hebat yang menunjukkan kreasi dan interpretasi anda terhadap apa yang anda lihat dan jepret. Memang kecepatan dan percepatan pencapaian tiap orang akan berbeda, satu bisa terkejar yang lain, tetapi tak apa itu wajar. Tak usah gusar.
Untungnya, bagus tak perlu mahal, foto bagus bisa dibuat dengan peralatan minimalis dan sedikit pengetahuan data teknis. Rahasianya adalah melihat secara artistik dan kritis. The art of seeing. Bisikanlah pertanyaan ini di dalam hati: Apa yang saya lihat, dan bagaimana saya melihatnya? Sebuah foto bagus punya kualitas yang menunjukkan keahlian, rasa seni, ketertarikan, dan kepribadian dari fotografernya. Maka kita bisa tahu foto bagus siapa. Tapi tak bisa tahu foto jelek siapa, tanya kenapa?
Apa yang Membuat Foto Bagus?
Foto bagus adalah foto yang berisi pesan. Pesan bisa berupa pernyataan (?Inilah Danau Toba?), kesan (?Suasana Senja di Danau Toba?), atau ungkapan emosi (?Jatuh Cinta di Danau Toba?). Pesan yang bagusadalah pesan yang jelas, tegas dan efektif. Tapi bagaimana?
Pesan butuh sebuah subjek. Tentang apa yang ingin anda sampaikan. Itu bisa saja berupa seorang yang anda kenal, pemandangan, atau bentuk-bentuk abstrak. Subjek adalah pusat POI dan biasanya ditempatkan di foreground. Lalu kita menyusun pesan dengan memasukkan bagian kedua, yakni context, seringkali berupa background. Context memberikan relevansi, keberadaan, lokasi subjek, atau minat lainnya. Pesan adalah kombinasi dua elemen ? subjek dan context, foreground dan background ? yang menceriterakan pesan tersebut.
Seperti pentingnya mengetahui apa saja yang perlu dimasukkan ke dalam pesan, kita juga perlu tahu apa yang tak perlu dimasukkan ke dalam pesan. Apasaja yang bukan bagian dari subject atau context dari pesan yang kita buat, maka itu hanyalah duri atau beling yang mengganggu, menggores-gores foto dan membuat pesan kita menjadi tidak jelas. Jadi kurangi bagian-bagian yang tidak relevan di sekitar POI ? biasanya dengan beringsut lebih dekat ke arah subject, atau berpindah untuk mendapatkan viewpoint yang lebih baik ? dan membuat bidikan yang jelas dan bersih. Seorang pelukis menciptakan seni dengan penambahan ? menambahkan apa yang dia lukis ? sementara fotografer menciptakan seni dengan pengurangan ? mengurangi bagian-bagian yang tidak perlu.
Resep untuk sebuah foto yang bagus adalah:
“Sebuah latar depan, sebuah latar belakang, dan tidak ada yang lain.”

Apa yang Membuat Foto Luar Biasa?
Foto luar biasa langsung memukau mata. Sementara pepatah bilang: picture may say a thousand words , maka foto luar biasa hanya mengatakan satu kata saja: ?Wow!?
Foto luar biasa adalah karya seni. Ia merekam semangat dari subjek dan membangkitkan emosi. Bob Krist menyebutnya ?The Spirit of Place.? Anda juga dapat menggunakan trik-trik gamblang untuk membuat terpesona pengunjung galeri foto anda. Mari kita lihat bagaimana caranya.
Sebuah gambar adalah sebuah taman bermain, terdapat tempat-tempat di mana mata kita mengembara dan mengamati, juga ruang di mana mata kita beristirahat dan relaks. Ketika kita pertama melihat sesuatu, kita bersikap untuk tidak terpengaruh. Mata kita lalu secara alami menemukan cahaya, area terang, dan mencari orang, biasanya pada mata dan mulutnya. Apakah kita tahu orang yang ada di dalam gambar? Apa yang mereka rasakan dan bagaimana hal tersebut berhubungan dengan kita? Apakah mereka tergambar memperhatikan pada sesuatu? Jika begitu, apakah kita mengenalinya (sebuah bangunan, sebuah landmark) dan seperti apa ia? Tentang apakah gambar tersebut? Apa subjek atau tujuan utamanya? Seberapa besar subjeknya? Kita menentukan skala dengan membandingkan elemen-elemen dengan sesuatu yang kita ketahui ukurannya, seperti orang, binatang, atau mobil. Sekali kita selesai mengamati orang dan elemen-elemen yang berkaitan, kita melanjutkan perhatian kita ke elemen-elemen yang lebih abstrak.
Pertama kita memperhatikan warna atau tone subjek. Merah membara, biru nan tenang, hijau natural, hitam mencekam. Lalu kita melihat bentuk. Kurva lembut, sudut kaku, garis-garis yang menyapu. Bagaimana cahaya mengenai subjek memberikan bayangan halus bentuk tiga dimensinya. Anda, sebagai fotografer, dapat memanipulasi ini semua dengan mencari terang dan gelap, menggeser intensitas dari tone dan hue. Bagaimana mata terseret ke dalam gambar?
Bentuk membimbing kita pada tekstur, bagaimana subjek terasa dalam sentuhan. Lembutkah ia, haluskah ia, keras atau kasar? Apakah memiliki karakter dan kehangatan? Cara elemen-elemen disejajarkan dan dipengaruhi oleh cahaya yang sama, membuat kita mempertimbangkan kualitas dan keterkaitan mereka. Keseimbangan menuntun mata kita dari satu elemen ke elemen yang lain, meneliti kesatuannya, kontras, dan detailnya, setiap item menambah keasyikan ke item berikutnya. Apa keterkaitan satu sama lain dari semuanya itu?
Sebagai seniman, anda dihadapkan pada pilihan yang akan mengungkap sense of the art anda. Komposisi secara keseluruhan, proporsi layout, penyajian elemen-elemen lain yang penting, anda dapat menentukan feature mana yang anda butuhkan, dan apa yang terbaik untuk menegaskan pesan anda.
Resep untuk foto luar biasa adalah:
?Pertimbangkan bagaimana elemen-elemen berkaitan secara keseluruhan?.

Apa yang Membuat Foto Eye-Catching?
Kembali kepada sifat eye-catching dari foto luar biasa, berikut rahasianya, 4 kunci saja: kesederhanaan, warna, cahaya dan kedalaman.
Kesederhanaan : Kesederhanaan dalam seni juga dikenal dengan sebutan visual economy , yakni mengeliminasi semua elemen atau detail yang tidak perlu yang tidak ada kontribusinya pada semangat komposisi secara keseluruhan.
Kesederhanaan dapat dicapai dengan beberapa cara:
  • kurangilah jumlah dan tipe objek yang akan dibidik
  • memotret lebih dekat pada subjek, atau zooming bila lensanya bisa di-zoom
  • anda bisa juga menghilangkan elemen-elemen yang tidak perlu melalui jalur photoshop
Warna : Untuk menciptakan dampak pada foto anda adalah dengan mencari corak warna yang menonjol. Merahnya bunga, birunya langit, kuningnya senja, atau hijaunya dedaunan. Sekali lagi, kesederhanaan adalah kunci ? cobalah untuk mengurangi jumlah dan tipe warna dalam bidikan anda untuk lebih memberikan dampak. Secara umum, sebuah foto sebaiknya hanya memiliki satu subjek utama dan satu warna utama. Konsentrasikan hanya pada satu dari tiga warna primer: merah, biru atau kuning. Tiga warna dominan ini sangat baik diseimbangkan dengan warna-warna komplemennya, yaitu: merah dengan hijau, biru dengan oranye, dan kuning dengan ungu.
Ada beberapa cara untuk menonjolkan warna, pertama adalah dengan menggunakan filter polarizer. Cara yang kedua dengan membatasi range gelap ke terang. Singkirkan area yang terlalu gelap atau terlalu terang dibandingkan dengan subjek utama anda. Cara ketiga dengan menggunakan slide film Velvia. Cara keempat: pilih waktu terbaik sesuai dengan maksud foto anda:
jam 5 : Fajar : warna pink, cahaya yang sangat halus dan kabut tipis untuk danau, sungai dan pemandangan.
jam 6 : Sunrise : Cahaya renyah, keemasan. Pas untuk subjek-subjek menghadap timur.
jam 10 ? 14 : Tengah hari : tidak cocok untuk pemandangan dan motret orang, tetapi bagus untuk motret gedung-gedung dan monumen. Warna-warna bangunan dan detailnya terekam sangat baik.
jam 14 ? 16 : Sore hari : Langit biru dengan polarizer.
jam 16 ? 18 : Senja hari : Cahaya yang hangat, keemasan. Pas untuk subjek-subjek menghadap barat. Waktu terbaik untuk landscape dan orang, khususnya satu jam sebelum sunset.
jam 18 ? 18.30 : Sunset : Langit yang indah, mulai 10 menit sebelum sunset sampai 10 menit sesudahnya.
jam 18.30 ? 19.30 : Magrib : Foto malam yang indah, lampu-lampu sudah bernyalaan sedangkan langit masih nampak keunguan.
Cahaya : Pencahayaan yang baik seringkali menjadi kunci foto-foto juara. Penggunaan cahaya siang hari secara efektif dapat juga memperbaiki foto anda. Untuk mencapai foto seindah di ?National Geographic?, fotolah ketika cahaya berwarna keemasan ? muncul sesudah sunrise dan sebelum sunset, sering disebut ?magic hours? di kalangan fotografer. Coba lihat lagi rincian dari waktu-waktu terbaik di atas.
Kedalaman : Sertakan rasa kedalaman pada foto anda. Kedalaman dapat dicapai dengan pengaturan DOF, penempatan elemen-elemen di dalam foto, dan pencahayaan.



teknik pencahayaan dalam fotografi Penyinaran dalam kamar

Penyinaran dalam kegiatan fotografi sangat penting sekali perananannya. Cahaya atau lazimnya disebut sinar merupakan awal terjadinya proses suatu objek ( benda ) dapat terlihat oleh mata telanjang. Bagi orang-orang yang memiliki penglihatan normal atau sempurna, ketidaktajaman objek yaog dilihat mempakan persoalan yang ganjil, karena mereka tahu apa yang diartikannya, tetapi mereka tidak menyadari bagaimana proses
tersebut terjadi. Dalam proses fotografi, ketidaktajaman memungkinkan bentuk baru dalam pengelihatan yang menarik untuk diamati dm diekplorasi. Ketidaktajaman bukanlah selalu merupakan kesalahan serta kelemahan, hal ini dibuktikan dengan adanya usaha dalam pemotretan selalu berusaha mencari solusi terbaik terhadap basil foto yang diambilnya.
Kekaburan sebenarnya merupakan salah satu bentuk dari ketidaktajaman
yang mengarah, dimana sasaran kekaburan menunjukkan proses yang yang sebenarnya berarti. Ketajaman dan ketidaktajaman dalam fotografi diartikan secara luas dan berpengaruh serta dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya oleh faktor pencahayaan. Pencahayaan memiliki karakteristik seperti kekuatan cahaya (intensitas), warna cahaya, durasi cahaya, serta proses pemantulannya. Proses awal terlihatnya suatu objek disebabkan karena cahaya yang terpancar oleh suatu sumber cahaya yang dipancarkan ke objek dan sekelilingnya, selanjutnya diterima dan diserap, kemudian dipantulkan lagi oleh objek dan diterima oleh mata sehingga objek menjadi akan tampak terlihat.
Banyak jenis sumber cahaya sebagai penerangan dalam keglatan fotografi, baik cahaya atau sinar alami seperti rnatahari ataupun cahaya buatan seperti lampu.
Ada 2 jenis sistem pancaran cahaya yaitu :
1) Pancaran cahaya langsung
Penggunaan cahaya langsung dalam fotografi berarti penggunaan cahaya untuk menerangi objek yang akan di foto, cahaya atau sinar di pancarkan langsung ke objek tersebut tanpa dipantulkan terlebih dahulu oleh media pantul ( pemantul ).
Pancaran cahaya langsung mudah dicapai apabila menggunakan sumber cahaya buatan, karena sumber cahaya buatan arah pancaran sinamya mudah diatur dalam pemakaian, misalnya penggunaan cahaya buatan dari lampu kilat ( blitz ).
2) Pancaran cahaya tidak langsung
Pancaran cahaya tidak langsung ( bouncing flash ) yaitu pemberian cahaya atau pencahayaan pada objek yang difoto secara tak langsung dengan pemantulan cahaya atau sinar sebelum jatuh mengenai objek, sehingga cahaya akan menjadi lebih lunak ( lembut ) yang mengakibatkan detail objek lebih jelas.
Fotografi dengan teknik cahaya sinar tidak langsung ( bounching flash ) lebih baik daripada yang menggunakan sinar langsung. Mengingat penggunaan sinar atau cahaya langsung yang mengenai objek akan mengakibatkan cahaya tidak semuanya terserap oleh objek sehingga cahaya yang dipantulkan ( detail objek ) hilang dan sebaliknya, teknik bouncing flash merupakan sebuah alternatif terbaik untuk pengembangan nilai estetika yang terkandung dalam media fotografi melalui ekplorasi teknik yang ada dalam fotografi karena didukung oleh sistem otomatis dengan sensor cahaya (light sensor/sleep unit) yang bisa menghidupkan sumber cahaya secara otomatis, pemotretan dengan teknik pantulan menjadi dipermudah (Spitzing, 1980 : 98).

Macam-macam Kamera


Saat ini kamera dapat dikelompokkan menjadi kamera analog dan kamera digital. Kamera analog mengambil gambar dari cahaya yang ditangkap lensa, kemudian menyimpan hasilnya pada negative film. Pada kamera digital terdapat sensor penangkap gambar CCD (Charged Coupled Device) dan CMOS (Complementary Metal Oxide) lebih dari jutaan pixel (picture element). Sensor tersebut adalah suatu chip yang terletak tepat dibelakang lensa. Semakin banyak jumlah pixel pada sensor, maka gambar yang dihasilkan akan semakin detail.
Sensor yang banyak dipakai oleh produsen berupa semikonduktor dengan nama CCD (charged-couple device semiconductor) dan CMOS (complementary metal-oxide semiconductor). Kualitas maupun ukuran dari sensor ini salah satu dari faktor penting yang mempengaruhi kualitas dari gambar yang akan dihasilkan. Media penyimpanan data digital gambar pada kamera digital terpisah dengan media penangkap cahaya. Media penyimpanannya biasa disebut memori memiliki berbagai macam jenis bergantung dari produsen pembuat kamera. Media penyimpan yang umum digunakan adalah tipe-tipe Compact Flash(CF), Secure Digital(SD), Multi Media Card (MMC), Memory Stick (MS) dan (XD).
Saat ini telah banyak beredar kamera digital dari banyak produsen kamera, dengan kemampuan baik dari jumlah pixel, kapasitas memori, dan fitur-fitur tambahan lainnya. Secara umum kamera dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain:

1 Kamera Pocket
Kamera pocket disebut juga kamera saku, karena bentuknya yang kecil dan mudah dibawa kemana-mana serta sangat praktis dan mudah menggunakannya karena tidak perlu menyetel apa-apa dan yang penting adalah fotonya pasti jadi karena semuanya sudah diatur oleh kamera. Jadi dalam hal ini sang fotografer nggak perlu ikut campur masalah teknis kamera, pokoknya bidik dan jepret (point and shoot). Namun pada saat ini kamera pocket telah cukup berkembang dengan berbagai macam fasilitas seperti lensa zoom.




2. Kamera SLR
Kamera SLR (Single Lens Reflex atau Cermin Lensa Tunggal), disebut SLR karena cara kerja kamera ini karena pembidikannya dipantulkan melalui prisma dan cermin lalu diteruskan pada lensa utama sehingga tidak terjadi efek paralax (perbedaan bidikan dan hasil gambar yang ditangkap kamera) seperti yang terjadi pada kamera jenis range finder. Dengan kamera jenis ini, fotografer harus menentukan kecepatan shutter speed (Kecepatan rana), aperture (bukaan diafragma) serta fokus, maka disini fotografer adalah si penentu kualitas foto, apakah jadi kabur nggak karuan atau lebih indah dari aslinya. Dengan kamera SLR sang fotografer dapat berkreasi sebebas-bebasnya dengan membuat efek-efek tertentu dengan cara membuat kombinasi yang berbeda antara shutter speed dan aperture, selain itu kamera SLR sangat banyak asesorisnya seperti berbagai jenis lensa, filter dll. Dengan berkembangnya teknologi dibidang fotografi, maka saat ini kamera SLR juga memliliki kemampuan yang serba otomatis yang menyesuaikan dengan kondisi pencahayaan, seperti fokus otomatis, kecepatan rana otomatis, dan bukaan diafragma otomatis, Namun selain dapat disetel otomatis kamera tersebut dapat disetel manual. Kamera jenis SLR paling banyak digunakan oleh amatir maupun profesional, selain karena kemampuannya, menggunakan kamera jenis ini menurut mereka lebih menantang (mungkin maksudnya lebih ruwet karena harus nyetel ini itu.



3 Kamera Range Finder
Disebut demikian karena pembidikannya secara langsung tanpa melalui lensa utama (sama dengan kamera pocket) beberapa fasilitasnya mirip dengan kamera SLR, seperti pengaturan diafragma, kecepatan rana, penyetelan fokus serta dapat ditambah asesoris seperti filter dll. Kamera jenis ini sekarang sudah tidak populer lagi.





4. Kamera Medium Format
Kamera ini cara kerjanya mirip dengan SLR namun dengan ukuran film yang digunakan lebih besar yaitu 120 mm, dengan ukuran film tersebut maka pembesaran yang dihasilkan akan lebih baik dari pada menggunakan film 35 mm. Kamera ini biasanya digunakan pada pemotretan Still Life (benda tidak bergerak), model, ataupun untuk keperluan keperluan bisnis seperti iklan dan majalah yang membutuhkan hasil gambar yang besar.



5. Kamera Large Format
Biasa disebut juga View Kamera, kamera jenis ini menggunakan film yang lebih besar, yaitu ukuran 4x5 inci atau 8x10 inci. Jika menginginkan hasil cetak ukuran yang sangat besar dengan kualitas yang sangat bagus biasanya menggunakan kamera ini. Kamera ini biasanya hanya digunakan untuk pemotretan yang lebih khusus seperti foto udara dan foto arsitektur dari jarak dekat tanpa menimbulkan distorsi (minimal).



6. Kamera Instan
Kelebihan dari kamera ini adalah kecepatannya dalam menghasilkan gambar. Dengan kamera ini kita tidak perlu repot-repot melakukan proses cuci cetak film, sebab, beberapa detik setelah selesai pengambilan gambar, maka hasilnya akan langsung jadi. Namun disamping kelebihan yang dimiliki, kamera inipun memiliki kekurangan. Karena Film yang digunakan adalah film instan, yang tentunya tidak memiliki klise, maka hasil pemotretan tidak memungkinkan untuk dicetak ulang.

Cara kerja kamera

Cara kerja kamera

Sekarang kita akan belajar bagaimana cara kerja kamera secara sederhana. Contohnya saat melihat atraksi seekor lumba-lumba meloncat dari kolam renang. Saat menekan tombol shutter pada kamera, terdapat proses yang cepat dalam menangkap gambar. Proses tersebut terjadi dalam sekejab saja, bayangkan saja bahwa proses cara kerja kamera secepat peluru pistol atau kilat.






  1. Pertama analogikan kita melihat pensil di ujung meja tulis. Cahaya datang dan memantul dari pensil lalu masuk ke badan kamera.



  2. Cahaya yang masuk ke kamera lalu mengenai lensa optic ( lensa convex / lensa cembung ). Lensa ini yang akan memfokuskan cahaya yang diterima berupa bayangan terbalik kesuatu tempat yang disebut film.



  3. Proses kimia terjadi saat film terkena cahaya dan membentuk sebuah pola gambar. Hanya bagian film yang terkena cahaya yang akan terbakar dan hangus, sedangkan bagian yang lainnya tetap. Dahulu film dibuat dari lempengan kaca yang bercampur bahan kimia yang langsung merekam cahaya. Perak dan kapur adalah campuran pertama kali yang digunakan untuk membuat lempengan tersebut. Tapi sekarang, film dibuat dari bahan plastik dan dilapisi emulsi garam perak halida supaya peka menangkap cahaya. Film yang digunakan untuk foto hitam putih menggunakan satu lapis senyawa garam perak halida. Sedangkan penggunaan foto berwarna menggunakan minimal 3 lapis.



  4. Hasil dari penangkapan film adalah sebuah klise / negatif yaitu lembaran hitam. Kemudian film dicetak pada kertas foto. Proses pencetakan atau pencucian dilakukan pada ruang gelap, kenapa? Karena cahaya dapat merusak hasil film yang rentan terbakar. Berikut adalah contoh klise yang saat ini sudah hampir tidak dipakai lagi.



Cara kerja kamera mudah untuk dimengerti, dan hampir semua teknologi kamera saat ini berawal dari kamera sederhana / konvensional. Saat ini, untuk mencetak sebuah gambar pada kertas foto tidak menggunakan kertas film lagi. Banyak orang beralih ke kamera digital.




Kamera modern menggunakan proses elektronik dan menyimpan hasilnya pada sebuah kartu / memory card. Hasil foto bisa dilihat secara langsung secara digital. Sampai sekarang cara kerja kamera modern masih dikembangkan oleh setiap produsen kamera.